Wednesday, April 29, 2009

Maha Suci

Subhanallah, walhamdulillah, Waallahu akbar.

Betapa senang hati penduduk yang dikaruniai sebuah telaga seluas ngebel. Mungkin, ada sebagian yang berkata siapa bilang ngebel luar biasa dan membuat hati senang. karena memang sekarang ngebel belum se- ramai sarangan. Percayalah suatu saat nanti ngebel akan se ramai bahkan menandingi kota sate kelinci itu.

Suatu saat ngebel akan mengharumkan kota REOG. Seperti seni reog itu sendiri. Dahulu ketika para penduduk masih belajar menari reog siapa yang menyangka akan menjadi kebanggaan kota yang mengharumkan namanya.

Biar gak penasaran, kalau jalan-jalan ke Magetan jangan lupa singgah ke kota Reog! Karena selain bisa menyaksikan kesenian reog, anda juga bisa menikmati sate ayam khas Ponorogo yang disajikan dengan cara khas asli kreatifitas penduduk Ponorogo dan berbeda dengan sate dari daerah lain. Sempatkan juga menikmati sejuknya udara ngebel.

Dan yang terakhir, sebelum meninggalkan Kota Reog, sempatkan belanja jajanan khas seperti jenang, dodol, tempe kripik dll.


Monday, April 27, 2009

Indahnya Berbagi

Berbagi itu ternyata indah dan pasti membawa berkah. Siapa bilang g. Bagiku berbagi apapun itu indah. Mau bukti?

Saat kita dilanda kesedihan/ kesusahan karena suatu hal, kemudian kita rela berbagi dengan beberapa teman kita, niscaya kita akan dapat usulan saran/solusi. so, pikiran g buntu lagi mesti gimana, ngapain. dan pasti akan terhibur.

Apalagi kalo kita sedang mendapat kebahagiaan. Niscaya banyak temen kita yang juga ikut seneng jika kita rela berbagi. Memang sich dari sekian temen kadang ada yang sirik, tapi itu justru akan menguji kita. Kalau kita bisa lolos, akan menjadikan diri kita lebih dewasa.

Tidak perlu bawa-bawa ayat Al-Quran dulu lah, karena ayat-ayat Al-Quran itu kadang juga akan menjadi dinding penyekat buat kita berbagi.


Saturday, March 28, 2009

Ibu......

Ibu.... semangatmu tetap membara. Engkau begitu berarti bagiku,walaupun aku dipertemukan denganmu belum lama. Aku akan selalu berusaha menghormatimu, menyayangimu seperti mamiku yang melahirkan aku dari rahimnya.

Ibu.. Meski aku tidak pernah merasakan terlahir dari rahimmu karena memang engkau tidak melahirkanku, engkau seperti ibuku sendiri. yang harus ku patuhi setiap nasehatmu.

Ibu... maafkan aku ibu. karena setiap hembusan nafasku selalu membuat engkau jenuh, jengkel dan merasa terabaikan. Ibu, "seandainya diperintahkan seorang anak untuk bersujud dikaki ibu" dan aku lakukan sepanjang hidupku untuk bersujud di kakimu pun tidak akan mampu untuk menebus dosa-dosaku. Hanya ketulusan maafmu yang akan membebaskan aku dari adzabNYA nanti.

Mami.... doakan anakmu yang jauh darimu ini! karena hanya doamu yang lebih didengar dan dikabulkan oleh Yang Maha Mendengar lagi Maha Pengasih.

Wednesday, September 24, 2008

Entah Mengapa?

Entah sampai kapan aku harus menunggu. Menunggumu untuk menjadi imam dalam sujudku. sejak fajar terbit setiap pagi aku menunggumu. Hingga fajar telah menyingsing dan waktu subuh telah habis engkau tak datang. Akhirnya harusku bersujud di detik2 terbitnya sans surya dengan sendirian.

Aku berharap siang menjelang saat adzan dhuhur dikumandangkan engkau datang untuk menjadi imam dalam sujudku. Entah mengapa engkau juga tak datang sampai dhuhur berakhir yang membuat aku harus bersujud diakhir waktu sendirian. Juga tak ada kabar yang mengisyaratkan ketidakdatanganmu.

Setelah surya mulai memasuki sepenggalah menuju ke peraduannya, aku sisakan tenaga untuk bersabar selalu berdoa agar engkau bisa datang menjadi imam dalam sujud asharku. Dan setelah itu engkau melepas lelah dan penat karena seharian harus bergelut dengan pekerjaan2 yang setia di kantor. Apalah daya, ternyata hingga sang surya mau kembali ke peraduannya engkau tak datang juga. harusku bersujud sendiri di akhir waktu lagi.

Oh... Mungkin engkau masih sibuk dengan pekerjaan2mu yang selalu menunggu sentuhan mesramu. Pagi2 benar pekerjaan itu telah menunggumu dengan setia. Saat siang menjelang seiring terik panasnya sang surya, pekerjaan itu juga belum beranjak selesai. Sehingga tak sempat untuk meluangkan waktu untuk menjadi imamku dalam sesaat.

Kalau pada waktu subuh, dhuhur dan ashar engkau tak datang aku masih bisa memaklumi kemungkinan2 yang menjadi penyebab ketidakdatanganmu. Tapi ketika magrib menjelang engkau tak datang, hatiku gundah. Gelisahku selalu menemani setiap sang surya telah bersembunyi ke peraduannya. Beribu tanyaku kenapa engkau tak datang? Adakah sesuatu telah terjadi denganmu sehingga engkau tak akan datang? Hingga datang waktu isya tak ada kabar yang mengisyaratkan ketidakdatanganmu. Dan gelisahku pun mencapai puncaknya. Kesabaranku entah telah bersembunyi di mana. Sekarang tinggallah kepasrahanku pada Nya. Aku sudah dititik nadzir dalam berusaha.

Hanya sebuah keajaibanlah jika sampai engkau menemuiku dan mau menjadi imam dalam sujudku. Dan semoga akan terjadi sebuah keajaiban ini. Kekuatan doalah yang akan membuktikannya.


Sunday, August 31, 2008

Eidelweis

Keabadian

17 Agustus 2008

Seperti keinginanku
Menjadi Eidelweis sejati
Akan selalu abadi

Meski......
Mungkin tanpa kau sadari
Aku tak kan pernah tergantikan
Oleh apapun, siapapun

Suatu saat kau kan sadar
Betapa abadinya aku
di Hati mu

Wujudku mungkin sudah tak seperti semula
Namun perlu kau ketahui
Aku tak kan bisa di gantikan

Seperti Eidelweis
Walaupun telah kering
Tetap saja layak jual
Laku di pasaran
Tanpa mengurangi keharumannya

Pun juga diriku
Telah jauh darimu
sekalipun
Akan tetap abadi

Selamat datang

Allahu Akbar.......

Marhaban yaa Ramadlan.....

teruntuk saudara2ku yang mau merelakan waktunya untuk mengunjungi rumahku ini.

selamat menunaikan ibadah puasa bulan ramadlan dan segala ibadah lain yang mengikutinya. semoga kita semua mendapat rahmat, hidayah maghfirahNya.

dari hati yang paling dalam pemilik rumah mohon maaf sebesar besarnya hanya untuk menyempurnakan ibadah di bulan ini.

terima kasih saudaraku yang telah memaafkan aku dan segala kesalahanku. aku pun juga begitu. akan memaafkan semua kesalahan2 saudara2ku.