Showing posts with label nafasku. Show all posts
Showing posts with label nafasku. Show all posts

Wednesday, April 29, 2009

Dalem kalian Njenengan

Aku gak pernah nyangka. Aku sangat berharap yang sering kusebut malaikat, dan kuharapkan kedatangannya untuk menjadi imam dalam shalatku itu ternyata tidak pernah datang lagi. Walau sekedar menyapaku dengan sapaan "Assalamu'alaikum". Dan yang paling mengejutkan adalah saat berita kedatangannya ke alamku. Aku terlanjur berharap bahwa suatu hari dia akan mencariku. saat, harap-harap cemas (yang jelas bukan acara realityshow) menunggunya ternyata dia gak pernah ada kabar.

Aku sudah terlanjur menelantarkan Njenengan begitu lama. Karena aura malaikat itu masih mengikat erat benakku. Sehingga, perhatian Njenengan yang begitu luar biasa bisa Dalem abaikan dengan mudah.

Mungkin, benar apa sabda Njenengan: Idealisme/ Idealitas itu hanya ada di otak. 1001 kemungkinan yang memberikan penilaian salah tentang sabda Njenengan.

Dan Njenengan layaknya Nabi yang selalu menjadi pendamping sekaligus menjadi pendidikku. Seringkali aku hampir terjerumus ke dunia TBC (versi muhammadiyah/yang lain yang punya istilah itu dan yang pasti bukan Tubercolusiss) dan saat itu juga Njenengan meluruskan aku.

Akan Dalem dedikasikan sisa umurku ini tidak hanya untuk menjadi murid/ santri Njenengan sejati. Tapi juga untuk setia bersama Njenengan dalam langkah perjuangan Njenengan. Sehingga suatu saat dalem bisa melahirkan generasi jenius dari bibit Njenengan. Tentunya jika Njenengan mengijinkan dan memaafkan atas khilaf yang pernah aku lakukan.

Wednesday, September 24, 2008

Entah Mengapa?

Entah sampai kapan aku harus menunggu. Menunggumu untuk menjadi imam dalam sujudku. sejak fajar terbit setiap pagi aku menunggumu. Hingga fajar telah menyingsing dan waktu subuh telah habis engkau tak datang. Akhirnya harusku bersujud di detik2 terbitnya sans surya dengan sendirian.

Aku berharap siang menjelang saat adzan dhuhur dikumandangkan engkau datang untuk menjadi imam dalam sujudku. Entah mengapa engkau juga tak datang sampai dhuhur berakhir yang membuat aku harus bersujud diakhir waktu sendirian. Juga tak ada kabar yang mengisyaratkan ketidakdatanganmu.

Setelah surya mulai memasuki sepenggalah menuju ke peraduannya, aku sisakan tenaga untuk bersabar selalu berdoa agar engkau bisa datang menjadi imam dalam sujud asharku. Dan setelah itu engkau melepas lelah dan penat karena seharian harus bergelut dengan pekerjaan2 yang setia di kantor. Apalah daya, ternyata hingga sang surya mau kembali ke peraduannya engkau tak datang juga. harusku bersujud sendiri di akhir waktu lagi.

Oh... Mungkin engkau masih sibuk dengan pekerjaan2mu yang selalu menunggu sentuhan mesramu. Pagi2 benar pekerjaan itu telah menunggumu dengan setia. Saat siang menjelang seiring terik panasnya sang surya, pekerjaan itu juga belum beranjak selesai. Sehingga tak sempat untuk meluangkan waktu untuk menjadi imamku dalam sesaat.

Kalau pada waktu subuh, dhuhur dan ashar engkau tak datang aku masih bisa memaklumi kemungkinan2 yang menjadi penyebab ketidakdatanganmu. Tapi ketika magrib menjelang engkau tak datang, hatiku gundah. Gelisahku selalu menemani setiap sang surya telah bersembunyi ke peraduannya. Beribu tanyaku kenapa engkau tak datang? Adakah sesuatu telah terjadi denganmu sehingga engkau tak akan datang? Hingga datang waktu isya tak ada kabar yang mengisyaratkan ketidakdatanganmu. Dan gelisahku pun mencapai puncaknya. Kesabaranku entah telah bersembunyi di mana. Sekarang tinggallah kepasrahanku pada Nya. Aku sudah dititik nadzir dalam berusaha.

Hanya sebuah keajaibanlah jika sampai engkau menemuiku dan mau menjadi imam dalam sujudku. Dan semoga akan terjadi sebuah keajaiban ini. Kekuatan doalah yang akan membuktikannya.