Sunday, May 27, 2012

STOP MENGELUH 1): PECAHKAN MASALAHNYA!


Bila Anda percaya angka 13 sebagai angka sial, Anda akan selalu
menghindari angka tersebut. Bila Anda percaya angka
8  membawa rejeki, Anda akan selalu mencari segala
sesuatu yang mencantumkan angka tersebut.
Kepercayaan seseorang akan sesuatu
mampu mengubah
tingkah lakunya secara bawah sadar,
Deddy Corbuzier.

 Menjadi ibu rumah tangga itu tidak mudah. Tetapi bukan berarti sulit atau kurang menyenangkan sih.  Mungkin bagaimana belajar kita mengetahui seninya. Toh susah dan senang  itu relatif. Senang bagiku, tidak berarti senang bagi yang lain. Jadinya, bagaimana pandai-pandainya mengelola keadaan pikiran.
    Berbagai kesulitan yang kita alami, kenyataannya terkadang malah membawa kita pada apa yang kita impikan selama ini. Mula-mula kita merasa berat menjalaninya, bahkan bisa jadi membuat kita seringkali tanpa sadar sampai mengeluarkan keluhan  tak habis-habis. Mengeluh, dan terus mengeluh sampe berpeluh-peluh. Entah, sampai kapan. Mungkin sampai kiamat kali ya?
     Setidaknya, itulah yang kualami. Yang kupikirkan, jika terus-terusan terbiasa menyelesaikan atau membuang gundah dan masalah dengan mengeluh, pada akhirnya ia akan menjadi sebuah rutinitas. Oh gawat. Bisa-bisa kita selalu fokus di situ. Enggan beranjak dan bikin gebrakan segar dalam hidup. 
   Lama-lama kupikir kegiatan mengeluh ini sangat tidak keren. Belum lagi, jika kebiasaan buruk ini malah ditiru-tiru sama anak. Wah, jadi mental warisan deh jadinya. Semoga tidak. Bagaimana pun aku harus memulai mencoba cara pikir  lain, yang lebih enak, menyenangkan, dan bisa membawaku pada inspirasi-inspirasi segar kehidupan.
   Toh,  ketimbang terforsir dan fokus saja pada keluhan akan hidup, bukankah lebih nyaman jika terforsir pada mencari ide. Sama-sama menguras energi. Hanya saja hasilnya lain. Fokus pada keluhan, energi kita terkuras. Motivasi jadi rapuh dan melemahkan. Hidup seperti gelap. Seakan-akan hidup selalu saja ada masalah. Semuanya terasa jadi beban menggantung. Beraaaat dan melelahkan! 
   Bayangkan saja, harus mengurus suami, mengurus anak, dan sebagai guru aku harus juga mengeluh dengan tugas-tugas sekolah. Belum lagi kalau ada siswa yang bandelnya minta ampun. Dan satu lagi, kadang kita punya problem dengan sesama! Entah sesama guru, sesama sahabat, atau sesama-sesama lainnya. Kalau dibikin status, wah. Tentu bejibun dah memenuhi wall di jejaring sosial. Oh, betapa berat nian menjalani hidup ini rasanya!
  Apalagi jika datang puncak kegalauan di tiap kali tiba awal bulan.  Uang gaji habis buat belanja sebulan, buat keperluan dapur, keperluan anak, bensin suami, dan juga keperluan diriku sendiri. Belum lagi untuk bayar gaji pengasuh anak kami. Wow, tamat deh ini pikiran!
   Repotnya, soal keuangan, suami memasrahkan segalanya. Suami beralasan paling tidak bisa memegang uang lama-lama. Bisa-bisa habis sebelum waktunya. Repot lainnya, jadwal turun gaji kami berjauhan jaraknya. Gajiku turun di awal bulan, sementara  gaji suami baru turun menjelang minggu kedua.  Belum turun gaji suami, uang sudah habis. Teler mah, kata orang Sunda.
  Mau tidak mau, harus seefiesen dan seefektif mungkin mengatur dan mengelola pengeluaran kalau tidak mau kolaps. Kalau tidak perlu betul, sebisa mungkin dipending saja pengeluarannya. Memang,  kondisi ini tidak selalu bikin ruwet sih. Terkadang, asyik juga menikmati seni pengelolaan uang di dalamnya. Apalagi, suami mau-mau saja setiap hari pengeluarannya diatur sedemikian rupa.
Mencoba Fokus pada Inspirasi
  Fokus pada pemecahan masalah! Itulah jalan yang kini kupilih. Buang kebiasaan mengeluh, ganti dengan kebiasaan lain yang lebih bermanfaat, lebih bermartabat dan membawa hasil hasil menggembirkan.  Apalagi, konon, setiap fokus pikiran punya hukum karmanya sendiri!
    Fokus pada keluhan, hukum karmanya adalah, pikiran buntu. Melemahkan motivasi, dan menguras energi hidup saja. Apa saja yang kita kerjakan di hari itu terasa lebih berat dijalankan akhirnya. Pandangan ke depan serasa padam!
    Fokus pada pemecahan masalah, pikiran jadi selalu ingin menciptakan kreasi-kreasi baru bagaimana dan seperti apa cara memecahkan masalah. Memang, sama-sama menguras energi. Tapi kan hukum karmanya beda!
   Gara-gara ingin mengetahui bagaimana mengatasi masalah agar bisa beres, kita jadi punya rutinitas baru. Jika biasanya buka internet, habis untuk main fesbok atau twitter, kita lalu punya kebiasaan lain yang sama-sama menghabiskan waktu. Nyari informasi-informasi segar yang bisa dijadikan referensi. Baca-baca buku yang mencetuskan inspirasi dan kebiasaan penuh inspirasi dan kreasi lainnya. 
   Keinginan kuat untuk memecahkan masalah, juga membuatku punya kebiasaan baru dalam bergaul dengan teman dan sahabat, baik di chatting dan dunia nyata. Jika biasanya berisi ajang curhat dan bertaburan gosip, kini situasinya menjadi benar-benar berbeda. Aku mengisinya dengan menggali referensi positif yang mungkin mereka miliki.
   Lumayan juga hasilnya. Dari mereka aku dapat referensi tentang jual majalah dan membantu mencari periklanan. Kebetulan, beberapa teman aktif di media. Tak banyak pikir, aku pun mencobanya. Aku ikut membantu mendistribusikan dan mencari pelanggan baru, termasuk mencarikan iklan.
   Sayangnya, iya memang benar sih, bisa sedikit menambal pemasukan keluarga. Tapi waktunya itu lho yang bikin nggak nguatin. Kerjaan utamaku sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak didik jadi terganggu. Duh, bagaimana ini. Kok susah banged. Pengen nambah pemasukan, tetapi gimana caranya nggak mengganggu aktivitas yang sifatnya lebih prioritas.
     Beberapa waktu menggali referensi, dapat juga kerjaan yang lebih ringan. Bisnis pulsa! Lumayan, tidak terlalu banyak menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Tinggal ngasih pengumuman sama teman-teman, selesai sudah. Langganan setia pun bermunculan. Yaa, kebanyakan orang kan pengen ringkas dan tidak ribet. Membeli pulsa harus muter dulu ke konter. Maunya sih tiap orang kan pengen tinggal bilang: isi pulsaku. Sekarang! Selesai.
      Sekian lama bisnis pulsa, ternyata labanya cuma cukup untuk kebutuhan pulsa dua orang. Aku dan suamiku.  Yah, mari jangan mengeluh dahulu, pikirku. Fokus saja pada pemecahan masalah. Gimana caranya, tidak Cuma berhenti pada pemenuhan kebutuhan pulsa. Tetapi sekalian kebutuhan mencukupi isi dapur. Ah, tetapi bagaimana mungkinnnn, punya kerjaan dengan penghasilan cukup, tetapi tidak menyita kegiatan prioritas?
     Walah. Pasrah juga akhirnyaaaa.

No comments: