Bila Anda percaya angka 13 sebagai angka sial, Anda akan
selalu
menghindari angka tersebut. Bila Anda percaya angka
8 membawa rejeki,
Anda akan selalu mencari segala
sesuatu
yang mencantumkan angka tersebut.
Kepercayaan seseorang akan sesuatu
mampu mengubah
tingkah lakunya secara bawah sadar,
Deddy
Corbuzier.
Menjadi
ibu rumah tangga itu tidak mudah. Tetapi bukan berarti sulit atau kurang
menyenangkan sih. Mungkin bagaimana
belajar kita mengetahui seninya. Toh susah dan senang itu relatif. Senang bagiku, tidak berarti
senang bagi yang lain. Jadinya, bagaimana pandai-pandainya mengelola keadaan
pikiran.
Berbagai
kesulitan yang kita alami, kenyataannya terkadang malah membawa kita pada apa
yang kita impikan selama ini. Mula-mula kita merasa berat menjalaninya, bahkan
bisa jadi membuat kita seringkali tanpa sadar sampai mengeluarkan keluhan tak habis-habis. Mengeluh, dan terus mengeluh
sampe berpeluh-peluh. Entah, sampai kapan. Mungkin sampai kiamat kali ya?
Setidaknya,
itulah yang kualami. Yang kupikirkan, jika terus-terusan terbiasa menyelesaikan
atau membuang gundah dan masalah dengan mengeluh, pada akhirnya ia akan menjadi
sebuah rutinitas. Oh gawat. Bisa-bisa kita selalu fokus di situ. Enggan
beranjak dan bikin gebrakan segar dalam hidup.
Lama-lama kupikir kegiatan mengeluh ini sangat
tidak keren. Belum lagi, jika kebiasaan buruk ini malah ditiru-tiru sama anak.
Wah, jadi mental warisan deh jadinya. Semoga tidak. Bagaimana pun aku harus
memulai mencoba cara pikir lain, yang
lebih enak, menyenangkan, dan bisa membawaku pada inspirasi-inspirasi segar
kehidupan.
Toh, ketimbang terforsir dan fokus saja pada
keluhan akan hidup, bukankah lebih nyaman jika terforsir pada mencari ide.
Sama-sama menguras energi. Hanya saja hasilnya lain. Fokus pada keluhan, energi
kita terkuras. Motivasi jadi rapuh dan melemahkan. Hidup seperti gelap.
Seakan-akan hidup selalu saja ada masalah. Semuanya terasa jadi beban
menggantung. Beraaaat dan melelahkan!
Bayangkan
saja, harus mengurus suami, mengurus anak, dan sebagai guru aku harus juga
mengeluh dengan tugas-tugas sekolah. Belum lagi kalau ada siswa yang bandelnya
minta ampun. Dan satu lagi, kadang kita punya problem dengan sesama! Entah
sesama guru, sesama sahabat, atau sesama-sesama lainnya. Kalau dibikin status, wah.
Tentu bejibun dah memenuhi wall di jejaring sosial. Oh, betapa berat nian
menjalani hidup ini rasanya!
Apalagi
jika datang puncak kegalauan di tiap kali tiba awal bulan. Uang gaji habis buat belanja sebulan, buat
keperluan dapur, keperluan anak, bensin suami, dan juga keperluan diriku
sendiri. Belum lagi untuk bayar gaji pengasuh anak kami. Wow, tamat deh ini
pikiran!
Repotnya,
soal keuangan, suami memasrahkan segalanya. Suami beralasan paling tidak bisa
memegang uang lama-lama. Bisa-bisa habis sebelum waktunya. Repot lainnya,
jadwal turun gaji kami berjauhan jaraknya. Gajiku turun di awal bulan,
sementara gaji suami baru turun
menjelang minggu kedua. Belum turun gaji
suami, uang sudah habis. Teler mah, kata orang Sunda.
Mau
tidak mau, harus seefiesen dan seefektif mungkin mengatur dan mengelola
pengeluaran kalau tidak mau kolaps. Kalau tidak perlu betul, sebisa mungkin
dipending saja pengeluarannya. Memang,
kondisi ini tidak selalu bikin ruwet sih. Terkadang, asyik juga menikmati
seni pengelolaan uang di dalamnya. Apalagi, suami mau-mau saja setiap hari
pengeluarannya diatur sedemikian rupa.
Mencoba Fokus pada Inspirasi
Fokus pada pemecahan masalah! Itulah jalan yang kini kupilih. Buang kebiasaan mengeluh, ganti dengan kebiasaan lain yang lebih bermanfaat, lebih bermartabat dan membawa hasil hasil menggembirkan. Apalagi, konon, setiap fokus pikiran punya hukum karmanya sendiri!
Fokus
pada keluhan, hukum karmanya adalah, pikiran
buntu. Melemahkan motivasi, dan menguras energi hidup saja. Apa saja yang
kita kerjakan di hari itu terasa lebih berat dijalankan akhirnya. Pandangan ke
depan serasa padam!
Fokus
pada pemecahan masalah, pikiran jadi selalu ingin menciptakan kreasi-kreasi
baru bagaimana dan seperti apa cara memecahkan masalah.
Memang, sama-sama menguras energi. Tapi
kan hukum karmanya beda!
Gara-gara
ingin mengetahui bagaimana mengatasi masalah agar bisa beres, kita jadi punya rutinitas baru. Jika biasanya buka
internet, habis untuk main fesbok atau twitter, kita lalu punya kebiasaan lain
yang sama-sama menghabiskan waktu. Nyari informasi-informasi segar yang bisa
dijadikan referensi. Baca-baca buku yang mencetuskan inspirasi dan kebiasaan penuh
inspirasi dan kreasi lainnya.
Keinginan
kuat untuk memecahkan masalah, juga membuatku punya kebiasaan baru dalam
bergaul dengan teman dan sahabat, baik di chatting dan dunia nyata. Jika
biasanya berisi ajang curhat dan bertaburan gosip, kini situasinya menjadi benar-benar
berbeda. Aku mengisinya dengan
menggali referensi positif yang mungkin mereka miliki.
Lumayan
juga hasilnya. Dari mereka aku dapat referensi tentang jual majalah dan
membantu mencari periklanan. Kebetulan, beberapa teman aktif di media. Tak
banyak pikir, aku pun mencobanya. Aku ikut membantu mendistribusikan dan
mencari pelanggan baru, termasuk mencarikan iklan.
Sayangnya,
iya memang benar sih, bisa sedikit menambal pemasukan keluarga. Tapi waktunya
itu lho yang bikin nggak nguatin. Kerjaan utamaku sebagai ibu rumah tangga dan
mengurus anak didik jadi terganggu. Duh, bagaimana ini. Kok susah banged.
Pengen nambah pemasukan, tetapi gimana caranya nggak mengganggu aktivitas yang
sifatnya lebih prioritas.
Beberapa
waktu menggali referensi, dapat juga kerjaan yang lebih ringan. Bisnis pulsa!
Lumayan, tidak terlalu banyak menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Tinggal
ngasih pengumuman sama teman-teman, selesai sudah. Langganan setia pun
bermunculan. Yaa, kebanyakan orang kan pengen ringkas dan tidak ribet. Membeli
pulsa harus muter dulu ke konter. Maunya sih tiap orang kan pengen tinggal
bilang: isi pulsaku. Sekarang! Selesai.
Sekian
lama bisnis pulsa, ternyata labanya cuma cukup untuk kebutuhan pulsa dua orang.
Aku dan suamiku. Yah, mari jangan
mengeluh dahulu, pikirku. Fokus saja pada pemecahan masalah. Gimana caranya,
tidak Cuma berhenti pada pemenuhan kebutuhan pulsa. Tetapi sekalian kebutuhan mencukupi
isi dapur. Ah, tetapi bagaimana mungkinnnn, punya kerjaan dengan penghasilan
cukup, tetapi tidak menyita kegiatan prioritas?
Walah.
Pasrah juga akhirnyaaaa.
No comments:
Post a Comment